Minggu, 24 Juni 2012

Prospek IPO Bank Jatim

Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, atau disingkat BPD Jatim (kodenya belum ditentukan, tapi kita sebut saja BJTM), akan menyusul BPD Jabar Banten atau Bank BJB (BJBR) sebagai bank daerah yang terdaftar di bursa saham Indonesia. Namun tidak seperti BJBR yang menyelenggarakan IPO di saat yang cukup tepat, yaitu ketika kinerja perusahaan sedang cukup bagus, underwriter BJTM terbilang agak memaksakan diri kalau mereka kekeuhuntuk me-listing-kan BJTM pada Juli ini. Yup, BJTM mencatat penurunan laba bersih sebesar 10.8% pada Kuartal I 2012, yang tentu saja menjadikannya tidak cukup cantik di mata para investor.


Sebelum membahas BJTM, pertama-tama kita lihat dulu, apa sih yang dimaksud dengan Bank Pembangunan Daerah alias BPD? Berdasarkan Undang-Undang (UU) No. 13 Tahun 1962, BPD adalah (kalimatnya penulis ubah sedikit agar lebih enak dibaca) bank yang didirikan dengan tujuan khusus untuk menyediakan pembiayaan bagi pembangunan di daerah, dalam rangka mendukung percepatan pembangunan nasional secara menyeluruh dan merata di semua daerah di seluruh Indonesia.

Jadi sebelum adanya BPD, kemampuan untuk membiayai pembangunan di Indonesia terkonsentrasi pada bank-bank nasional milik Pemerintah (BRI, Mandiri, BNI, dan BTN). Dan karena semua bank Pemerintah tersebut berkantor pusat di Ibukota Jakarta, maka layanan mereka juga hanya terbatas di Jakarta dan sekitarnya, atau paling banter Pulau Jawa, dan tidak mampu menjangkau daerah yang jauh dari pusat, katakanlah Pulau Sabang atau Kabupaten Merauke. Bank-bank nasional ini tentunya bisa saja membuka kantor cabang hingga ke daerah terpencil, namun kantor-kantor cabang tersebut belum tentu sanggup menyediakan fasilitas kredit dalam jumlah besar untuk mendukung pelaksanaan pembangunan setempat (karena status mereka cuma kantor cabang, bukan pusat), kecuali sebatas menyediakan kredit usaha mikro.

Nah, dengan adanya BPD, maka para pelaksana pembangunan di daerah bisa meminta fasilitas pembiayaan kepada BPD setempat, dan nggak perlu jauh-jauh terbang ke Jakarta. Misalnya ketika Bupati Merauke membutuhkan dana untuk membangun infrastruktur jalan raya, maka dia bisa berangkat ke Jayapura untuk minta pinjaman ke Bank BPD Papua.

Saat ini semua provinsi di Indonesia memiliki BPD-nya masing-masing, atau minimal dua provinsi yang lokasinya berdekatan memiliki satu BPD (misalnya Bank Jabar-Banten, Bank Sumsel-Babel, dll). Sehingga teorinya, pembangunan di Indonesia kemudian berjalan secara merata. Semua orang di semua provinsi kemudian bisa menikmati pembangunan yang maju, fasilitas hidup yang lengkap, dan pekerjaan serta penghasilan yang layak. Tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk mengadu nasib ke Jakarta.

Tapi, apakah pada prakteknya memang demikian?

Sayangnya pada prakteknya, kebanyakan BPD hanya sedikit sekali menjalankan peran mereka sebagai penyedia pembiayaan bagi pembangunan di daerahnya. Yang ada, mereka lebih suka ‘main aman’ dengan menempatkan dana yang mereka peroleh ke Bank Indonesia (BI), atau bank-bank lainnya, untuk kemudian duduk manis dan memperoleh bunga secara rutin. Mereka enggan menyalurkan kredit ke perusahaan-perusahaan atau pemerintah di daerahnya, karena itu akan membutuhkan kerja keras untuk menganalisis risiko kredit dan lain-lain. Ironis, karena para BPD ini memperoleh sebagian besar dana pihak ketiganya dari Pemerintah Pusat dalam bentuk giro (plus sebagian kecil dalam bentuk deposito dan tabungan dari nasabah), dimana Pemerintah Pusat memperoleh dana tersebut dari BI. Terus masa sama para BPD ini, duit itu kemudian ditaroh di BI lagi? Jadi mereka ini sebenernya ngapain aja?

Btw, berikut adalah catatan porsi kredit yang disalurkan oleh bank nasional, dibandingkan dengan total aset yang mereka miliki, berdasarkan laporan keuangan kuartal I 2012. Angka dalam milyar Rupiah:

Bank
Asset
Loans
Portion (%)
Bank BTN
91,317
61,294
67.1
Bank BRI
439,339
269,181
61.3
Bank Mandiri
546,852
310,519
56.8
Bank BNI
289,373
159,356
55.1
Total
1,366,881
800,350
58.6

Sementara berikut ini adalah data yang sama untuk BPD seluruh Indonesia:

Bank
Asset
Loans
Portion (%)
BPD NTB

4,110

2,764
67.2
BPD Bali

11,635

7,506
64.5
BPD Sumbar (Nagari)

13,880

8,776
63.2
BPD Sulut

6,376

3,880
60.9
BPD Sumut

20,525

11,554
56.3
BPD Jatim
29,340
16,361
55.8
BPD Kalbar

8,641

4,708
54.5
BPD Sumsel Babel

16,336

8,882
54.4
BPD Sulsel Sulbar

9,995

5,284
52.9
BPD DI Yogyakarta

5,173

2,709
52.4
BPD Jateng

26,663

13,880
52.1
BPD NTT

7,618

3,937
51.7
BPD Bengkulu

2,958

1,494
50.5
BPD Maluku

4,814

2,118
44.0
BPD Riau Kepri

19,936

8,766
44.0
BPD Sultra

2,966

1,296
43.7
BPD Jabar Banten
63,680
27,339
42.9
BPD Kalsel

8,796

3,650
41.5
BPD Kaltim

29,803

11,598
38.9
BPD Papua

14,389

5,506
38.3
BPD Sulteng

1,911

576
30.1
BPD Jambi

6,292

1,702
27.0
Total
315,838
154,286
48.8

Catatan: Data untuk BPD Jabar Banten dan BPD Jatim diperoleh dari laporan keuangannya masing-masing, sisanya diperoleh dari publikasi BI. Sementara Bank DKI Jakarta, Lampung, Aceh, dan Kalteng, statusnya bukan merupakan bank BPD.

Dari data diatas, tampak bahwa rata-rata porsi kredit yang disalurkan oleh bank-bank nasional mencapai 58.6% dari total aset yang mereka pegang. Angka tersebut lebih besar ketimbang rata-rata porsi kredit yang disalurkan bank-bank BPD, yaitu hanya 48.8%. Sebenarnya, bank nasional juga bukannya nggak naroh duit di BI, kemudian duduk manis dan menerima bunga. Hanya saja porsinya tidak sebesar bank-bank BPD.

Dan dalam kaitannya dengan pendapatan dan laba bersih yang diperoleh bank yang bersangkutan, tindakan ‘cari aman’ dengan menempatkan dana di BI dan institusi keuangan lainnya, memang mampu memberikan peningkatan laba yang konsisten bagi bank-bank BPD (karena bunga dari BI ibarat gaji yang sudah pasti akan diterima setiap bulannya). Ambil contoh BPD Jatim (BJTM), laba tahun berjalannya naik terus dari tahun 2007 sebesar Rp403 milyar, menjadi Rp860 milyar pada tahun 2011, atau totalnya telah tumbuh 113.2% dalam empat tahun. Demikian juga dengan BJBR, yang laba bersihnya terus naik secara konsisten hingga total telah tumbuh 159.7% dalam kurun waktu 2007 - 2011. Well, lumayan bagus bukan? Tapi sekarang coba kita bandingkan pertumbuhan laba bersih dalam jangka panjang tersebut dengan bank-bank nasional, berikut datanya:

Net Profit
2011
2007
Growth (%)
Bank BTN
1,119
402
178.4
Bank BRI
15,088
4,838
211.9
Bank Mandiri
12,246
4,346
181.8
Bank BNI
5,808
902
543.9
Total
34,261
10,488
226.7

Kita lihat, bank-bank nasional mencatat persentase pertumbuhan yang jauh lebih baik ketimbang BPD, yaitu dengan rata-rata 226.7%. Dan itu memang masuk akal. Para bank nasional ini, mereka berani menyalurkan kredit dalam jumlah besar ke perusahaan ataupun masyarakat, dimana disitu terdapat risiko gagal bayar. Namun, risiko tersebut sebanding dengan pendapatan bunga yang juga jauh lebih besar ketimbang bunga simpanan di BI. Dengan sedikit kerja keras, risiko tersebut kemudian bisa diminimalisir, sementara pendapatan bunga yang diperoleh tetap tinggi. Well, analoginya mungkin mirip dengan seorang pengusaha yang pendapatannya tidak tetap alias bisa naik dan turun setiap saat, termasuk berisiko mengalami kerugian, namun memiliki peluang untuk meraih kenaikan pendapatan yang tinggi, tergantung seberapa giat dia dalam mengelola perusahaannya. Ini berbeda dengan seorang karyawan yang meskipun sudah pasti akan menerima gaji setiap bulannya, tapi gajinya ya segitu-gitu aja, peduli amat dia mau kerja sampai jungkir balik sekalipun.

So, dalam hal ini BPD menjadi tidak cocok untuk investasi long term, karena potensi pertumbuhannya (ternyata) terbatas, disamping karena mereka juga tidak berkontribusi banyak ke pembangunan di daerahnya. Sehingga lagi-lagi, pembangunan hanya terkonsentrasi di pusat (Jakarta dan Pulau Jawa). Mungkin ada juga BPD yang mau terjun untuk membiayai proyek tertentu milik Pemda, tapi itu jarang terjadi (BPD biasanya cuma mau ngasih kredit konsumsi ke PNS saja). And sorry to say, BPD Jatim juga termasuk didalamnya, kecuali jika nanti pihak manajemen mau mengubah kebijakan penyaluran kreditnya, kemudian mempraktekkannya (gak cuma omong doang).

Tapi, bukankah katanya BJTM mau menggunakan dana IPO-nya untuk ekspansi kredit? Yup, benar. BJTM akan melepas 2.98 milyar lembar saham pada harga Rp430 - 670 per saham. Tarohlah kita pakai harga jual yang terendah yaitu Rp430, maka BJTM akan meraup dana Rp1.3 trilyun. Dari dana tersebut, 80% diantaranya atau sekitar Rp1 trilyun akan dipakai untuk mendukung ekspansi kredit perseroan. Tapi tahukah anda, bahwa ketika BJBR melaksanakan IPO dua tahun yang lalu, 80% dari dana hasil IPO juga rencananya akan dipakai untuk ekspansi kredit? Lalu bagaimana hasilnya? Pada Kuartal I 2011, BJBR mencatat penyaluran kredit Rp27.3 trilyun, hanya meningkat 47.2% dibanding kuartal yang sama di dua tahun sebelumnya (tahun 2010). Untuk ukuran Bank BPD yang lokasinya dekat dengan pusat, itu adalah pertumbuhan yang mengecewakan. Kemana aja BJBR ini ketika banyak peluang pembiayaan untuk industri yang ramai-ramai masuk ke wilayah Bekasi, Tangerang, Cikarang, Depok, Bogor, dan Bandung?

Terus bagaimana dengan BJTM? Sama saja. Manajemen hanya mentargetkan peningkatan nilai kredit sebesar 23% pada tahun 2012 ini, dimana kalau bagi penulis sebagai seorang investor, itu adalah target pertumbuhan yang sama sekali tidak atraktif. Terlebih, seperti yang sudah disebut diatas, entah kenapa laba bersih BJTM di 1Q12 ini turun, padahal pendapatannya sebenarnya naik (Rp666 berbanding 622 milyar). Setelah penulis cek lagi, itu salah satunya karena perusahaan menderita kerugian dari penurunan aset kredit (impairment) senilai Rp60 milyar, dari sebelumnya hanya 19 milyar. Well, ini sebetulnya sangat disayangkan, karena kalau anda baca lagi tabel diatas, BJTM sebenarnya nggak pelit-pelit amat dalam menyalurkan kredit. Pada 1Q12, porsi kredit BJTM mencapai 55.8% dibanding total asetnya, atau sedikit lebih baik dibanding Bank BNI di periode yang sama. Tapi ternyata kualitas dari kredit itu sendiri nggak bagus dan malah menyebabkan kerugian. So, this stock is not an option for long term investments, at least for now.

Okay, mungkin BJTM ini memang nggak oke kalau buat invest. Tapi bagaimana kalau dipakai untuk simpanan jangka pendek? Bisakah dia naik banyak seperti ketika dulu ketika IPO BJBR? Untuk menjawab itu, bisa kita mulai dengan menghitung valuasi sahamnya.

Seperti disebut diatas, BJTM akan dilepas di range harga Rp430 - 670 per saham. Kita ambil yang terendah yaitu Rp430, maka BJTM akan meraup dana Rp1.3 trilyun, atau tepatnya Rp1,283 milyar. Setelah dikurangi biaya emisi dan lain-lain, bersihnya mungkin sekitar Rp1.25 trilyun. Ditambah ekuitas BJTM pada 1Q12 sebesar Rp3.7 trilyun, maka totalnya menjadi Rp5 trilyun. Pada harga saham 430, BJTM akan mencetak market cap Rp6.5 trilyun, sehingga PBV-nya akan menjadi Rp5 / 6.5 trilyun = 1.3 kali. Sementara PER-nya, dengan laba bersih Rp218 milyar pada 1Q12, maka annualized EPS BJTM adalah Rp58 per saham, sehingga PER-nya pada harga 430 adalah 7.4 kali. Binggo! Kabar baik saudara-saudara, IPO Bank Jatim ini ternyata murah! Jika sahamnya dilepas pada harga tertinggi, yaitu Rp670, maka PBV dan PER-nya masing-masing adalah 1.7 dan 11.5 kali, sudah tidak bisa dikatakan murah lagi, tapi juga belum bisa disebut mahal (masih wajar). Sepertinya, underwriter dari IPO Bank Jatim ini memilih untuk melepas saham BJTM di harga yang ‘sedapetnya aja’, mengingat kondisi market yang belum benar-benar pulih.

Terakhir, ingat bahwa meski saham IPO BJTM terbilang murah, namun kinerja BJTM pada 1Q12 ini cenderung menurun dibanding periode sebelumnya. Dan yang menurun tidak hanya laba bersihnya. Beberapa rasio keuangannya seperti aset produktif bermasalah, NPL, ROA, ROE, NIM, BOPO, hingga LDR, semuanya mengalami kemunduran kinerja yang cukup signifikan. Dalam kondisi market yang belum benar-benar pulih seperti sekarang, penurunan kinerja tersebut akan ditanggapi secara sensitif oleh para investor, atau trader sekalipun, sehingga mereka akan menjadi kurang berminat untuk bergabung dalam IPO BJTM. Jadi kalaupun BJTM ini berhasil naik banyak pada pembukaan perdagangan perdananya di tanggal 11 Juli nanti, namun kenaikannya kemungkinan tidak akan sebesar BJBR dulu. Jika anda tetap berminat, maka saran penulis, jangan gunakan dana terlalu banyak.

NB: 
Buletin rekomendasi saham edisi Juli akan terbit tanggal 1 Juli mendatang, anda bisa membelinya disini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar